Jakarta - Perlombaan menguasai teknologi Artificial Intelligence (AI) kini memasuki babak baru. Jika sebelumnya persaingan berpusat pada pengembangan model AI dan perebutan chip semikonduktor, kini fokus bergeser ke satu hal yang tak kalah penting: siapa yang boleh mengakses teknologi tersebut.
China dikabarkan tengah menyiapkan langkah baru untuk memastikan teknologi AI tercanggih yang dikembangkan di dalam negeri tidak jatuh ke tangan negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat (AS).
Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa AI kini bukan lagi sekadar produk teknologi, melainkan telah menjadi aset strategis yang berkaitan langsung dengan kepentingan nasional.
Aturan Ekspor AI Bakal Diperketat
Menurut laporan Financial Times, Kementerian Perdagangan China sedang menggelar serangkaian diskusi dengan perusahaan AI dan produsen semikonduktor domestik mengenai kemungkinan memperketat aturan ekspor teknologi.
Tujuannya sederhana namun strategis, yaitu menjaga agar teknologi AI paling mutakhir tetap berada di dalam negeri sekaligus membatasi akses pihak asing terhadap inovasi yang dianggap memiliki nilai strategis.
Pendekatan ini sebenarnya bukan hal baru. Amerika Serikat sebelumnya juga telah menerapkan berbagai pembatasan ekspor chip AI dan teknologi semikonduktor demi mempertahankan keunggulan teknologinya.
Model AI Canggih Bisa Ditutup untuk Pengguna Asing
Sebelumnya, Reuters juga melaporkan bahwa pemerintah China telah bertemu dengan sejumlah perusahaan teknologi besar untuk membahas kemungkinan pembatasan akses luar negeri terhadap model AI paling canggih buatan China, termasuk model yang bahkan belum diluncurkan ke publik.
Dalam berbagai konsultasi tersebut, regulator meminta masukan mengenai cara mencegah teknologi AI dan semikonduktor buatan China diakuisisi, dipelajari, atau dimanfaatkan oleh negara-negara Barat.
Sejumlah raksasa teknologi yang ikut dalam pembahasan tersebut antara lain Alibaba, ByteDance, dan Zhipu.
Bukan Sekadar Model AI
Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah membatasi pemindahan data penting yang digunakan untuk melatih model AI ke luar wilayah China.
Pemerintah juga disebut sedang mengkaji aturan agar bobot model AI (AI model weights) tidak dapat diunduh oleh pengguna asing. Bobot model merupakan komponen penting yang menentukan kemampuan sebuah AI. Jika pihak lain berhasil memperoleh bobot tersebut, mereka berpotensi mereplikasi atau mengembangkan teknologi serupa tanpa harus membangun model dari nol.
Dengan kata lain, China tidak hanya ingin melindungi data, tetapi juga "otak" dari teknologi AI yang dikembangkannya.
Industri Chip Juga Masuk Pengawasan
Rencana pembatasan tersebut ternyata tidak hanya menyasar sektor AI.
Pemerintah China juga dikabarkan sedang mengkaji aturan yang dapat melarang perusahaan semikonduktor luar negeri, seperti Qualcomm maupun TSMC, memproduksi chip canggih berdasarkan desain yang dibuat perusahaan China, termasuk Huawei, Alibaba, dan ByteDance.
Apabila kebijakan ini resmi diterapkan, aturan tersebut akan dimasukkan ke dalam revisi daftar teknologi yang dilarang atau dibatasi untuk diekspor oleh pemerintah China.
Masih Tahap Pembahasan
Meski demikian, seluruh usulan tersebut masih berada pada tahap konsultasi.
Financial Times menyebut pemerintah China saat ini masih mengumpulkan masukan dari berbagai pelaku industri sebelum menetapkan kebijakan final. Selain pembatasan ekspor, regulator juga dikabarkan sedang mempertimbangkan aturan yang dapat membatasi akuisisi teknologi strategis China oleh perusahaan asing, termasuk teknologi AI berbasis agentic AI yang kini menjadi salah satu fokus pengembangan industri.
Hingga saat ini, baik Kementerian Perdagangan China maupun perusahaan-perusahaan yang disebut dalam laporan, seperti Alibaba, ByteDance, Zhipu, Huawei, Qualcomm, dan TSMC, belum memberikan tanggapan resmi terkait rencana tersebut.
AI Kini Menjadi Senjata Strategis
Rencana China memperketat ekspor AI menjadi sinyal bahwa persaingan global tidak lagi sekadar soal menciptakan model AI yang paling canggih, tetapi juga mengendalikan siapa yang dapat mengakses teknologi tersebut.
Di tengah rivalitas teknologi antara China dan Amerika Serikat, kecerdasan buatan kini dipandang layaknya sumber daya strategis, setara dengan chip semikonduktor dan teknologi pertahanan. Siapa yang mampu menguasai sekaligus melindungi teknologi AI, berpeluang memiliki keunggulan besar dalam persaingan ekonomi dan geopolitik pada dekade mendatang.